Minggu, 25 November 2012

Final Softskill SIP


JURNAL 1
ANALISIS KRIMINOLOGIS TENTANG PENYEBAB PELAKU KEJAHATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPUTER

Perkembangan ilmu pengetahuan dam teknologi mengakibatkan terbentuknya sistem dan jaringan komputer (internet). Di Indonesia, banyak kejahatan yang menjadikan sistem dan jaringan komputer sebagai sasaran kejahatan, dan kejahatan yang menggunakan komputer sebagai sarana.Kejahatan di dunia (cybercrime) sudah marak terjadi di Indonesia, khusus dalam bidang perbankan sudah ada sejak tahun 1983. Kejahatan kategori ini dapat disebut cybercrime, atau tindak pidana dalam bidang telematika, atau kejahatan yang berhubungan dengan komputer (computer-related crime). 


Penulis berpendapat, teori kriminologi yang dapat digunakan untuk mengkaji kejahatan yang berhubungan dengan komputer adalah teori asosiasi diferensial dan teori netralisasi. Ini disesuaikan pada pertimbangan bahwa secara teoritik ada kesesuaian antara proposisi-proposisi dalam teori tersebut dengan karakteristik pelaku kejahatan tersebut. Menurut Clements Bartollas (1990), teori asosiasi diferensial itu mengutamakan proses belajar seseorang hingga melakukan kejahatan, sebagaimana tingkah laku lain pada manusia, merupakan sesuatu yang dapat dipelajar. Larry J. Siegel (1989), mengungkapkan pendapat utama teori netralisasi  bahwa seseorang akan belajar untuk menetralkan moral yang mengendalikan tingkah laku manusia, kemudian melakukan perilaku menyimpang. Berdasarkan paparan tentang teori netralisasi dapat dipahami bahwa tingkah laku menyimpang dilakukan seseorang karena didasarkan pada pemikirannya sendiri dan di dorong oleh beberapa kondisi di luar individu, sehingga pelaku selalu mencari alasan pembenar atas perbuatanya melalui proses rasionalisasi.
Penelitian ini dilakukan di Unit V infotek/cybercrime, Direktorat II bidang Ekonomi dan Khusus Mabes Polri. Jenis data yang dipakai primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari responden di lokasi penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari Daftar kasus Cybercrime di unit V infotek/cybercrime Mabes Polri dan media massa. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara terbuka. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan cara menguraikan secara deskriptif analitis dan preskriptif terhadap gejala kriminologis. Teknik ini dilakukan dengan cara menerapkan 2 teori kriminologi dalam kasus-kasus kejahatan yang berhubungan dengan komputer di Indonesia.
Berdasarkan data di Mabes Polri, ada 2 kategori kejahatan, yaitu komputer sebagai sarana kejahatan dan komputer sebagai sarana kekejahatan. Bentuk kejahatan yang berhubungan dengan komputer yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah pemalsuan kartu kredit. Jumlah kejahatan terbesar terjadi pada tahun 2002, yaitu 126 kasus, sedangkan terkecil terjadi pada tahun 2001, yaitu hanya 11 kasus. Danny Firmansyah ditangkap polisi karena melakukan defacing situs Komisi Pemilihin umum (KPU). Pada tanggal awal bulan Agustus 2006, Unit V Infotek Cybercrime menagkap Iqra Syafaat, tersangka defacing situs Partai Golongan karya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dicky Patrinegara, motivasi atau penyebab pelaku kejahatan yang berhubungan dengan komputer sangat bervariasi, yaitu :
  1. Termotivasi untuk memperoleh imbalan berupa uang (motivasi ekonomi).
  2.  Motif politik dapat juga mendorong tindakang cracking, defacing, dan DoS Attack.
  3. Selai itu, saat ini ada beberapa pelaku kasus pelanggaran lain yang dimotivasi oleh rasa ingin menampilkan kelucuan (funny).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dicky Patrianegara, semua pelaku kejahatan yang berhubungan dengan komputer seakan-akan sudah menjadi anggota komunitas dunia maya (underground). Dony Budi Utoyo mengemukakan bahwa internet dapat digunakan sebagai media pembelajaran melakukan kejahatan, karena diantara angggota komunitas seringkali mengadakan pembicaraan santai (chatting) sampai beberapa jam dalam sehari. Dalam proses chatting inilah sering diperoleh informasi tentang cara-cara melakukan kejahatan melalui jaringan komputer. Siapapun dapat secara mudah mendapat informasi termasuk teknik penyusupan (illegal acces) ke situs milik pihak lain. Untuk memberikan gambaran mengenai komunikasi antar anggota underground, berikut penulis mengutip komunikasi (message) melalui internet. 

Hasil wawancara, fakta di internet dan hasil penelitan penulis tersebut dapat mendukung kebenaran teori asosiasi diferensial bahwa kejahatan dipelajari melalui proses komunikasi dengan kelompok intim.  Interaksi antarpelaku dalam komunitas maya dapat dilakukan melalu komunikasi kapan pun dengan media komputer maupun hand phone dengan durasi waktu yang lama. Berdasarkan perspektif teori netralisasi, kejahatan yang berhubungan dengan komputer di Indonesia ada yang di motivasi oleh keinginan balas dendam, misalnya dalam kasus cracking situs yang dilakukan oleh cracker Indonesia ke situs di irlandia, karena dianggap sebagai basis gerakan pro kemerdekaan Timor Timur. Alasan kejahatan tersebut, dalam teori netralisasi disebut denial of victim, yaitu pelaku memahami diri mereka sendiri sebagai “sang penuntut balas”, sedangkan para korban dianggap sebagai orang yang bersalah.
Berpijak pada penjelasan tentang teori multi faktor terhadap penyebab kejahatan sebagaimana dikemukakan Sutherland dan Cressey , dapat diketahui bahwa pendekatan tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan tentang penyebab pelaku kejahatan yang berhubungan dengan komputer di Indonesia. Dengan demikian,  hasil penelitian penulis yang menyimpulkan bahwa pelaku kejahatan yang berhubungan dengan komputer di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor dan motivasi yang sangat bervariasi, dan adanya perbedaan variasi tentang faktor-faktor penyebab antara bentuk kejahatan satu dengan lainnya selaras dengan “multiple-factors theory
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab utama orang melakukan penipuan melalui komputer adalah memperoleh keuntungan ekonomi, keinginan untuk mencoba kemampuan sistem teknologi informasi pihak lain, dan ingin dikenal oleh sesama komunitas underground sebagai orang yang piawai dalam mengoprasionalisasikan komputer. Ada juga yang ingin menguji kemapuan diri sendiri, pelampiasan kekecewaan, ingin dinggap sebagai pahlawan, memperkenalkan atau meraih popularitas kelompok hacker, dan bersenang-senang. 


JURNAL 2

PERBEDAAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA KOMPUTER
PROGRAM CYBERLINK POWER DIRECTOR DAN TANPA MEDIA
 KOMPUTERPADA POKOK BAHASAN KUBUS DAN BALOK 
DI KELAS VIII SMP NEGERI 1 HAMPARAN PERAK
  TAHUN AJARAN 2009/2010

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dalam rangka menumbuh kembangkan sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Melalui pendidikan yang bermutu akan menghasilkan generasi-generasi yang menguasai sains dan teknologi. Matematika termasuk memiliki peranan penting dalam menunjang ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep matematika juga dapat dipergunakan dalam memecahkan permasalah dalam kehidupan sehari-hari.  Idealnya metematika adalah pelajaran yang diminati siswa karena matematika merupakan pelajaran yang penting. Namun, kondisi yang ditemukan dilapangan justru menunjukkan rendahnya minat dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Sedangkan minat belajar merupakan hal utama yang harus dimiliki setiap orang sebelum belajar karena tanpa minat keberhasilan sulit dicapai. Kubus dan balok merupakan salah satu materi pelajaran matematika pada kelas VIII dalam matematika. Pada topik ini masih banyak siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Cara guru mengajarkan konsep kubus dan balok masih belum memanfaatkan media komputer, menyebabkan siswa tidak berminat memahami materi tersebut sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. 



Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah perbedaan minat belajar siswa dengan media komputer program Cyberlink Power Director dan tanpa media komputer pada pokok bahasan kubus dan balok di kelas VIII SMP Negeri 1 Hamparan Perak tahun ajaran 2009/2010.  Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan minat belajar siswa dengan media komputer program Cyberlink Power Director dan tanpa media komputer pada pokok bahasan kubus dan balok di kelas VIII SMP Negeri 1 Hamparan Perak tahun ajaran 2009/2010. 
Hamalik dalam arsyad (2009),  mengemukakan bahwa Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.  Dalam proses pembelajaran matematika harus diciptakan suasana yang tidak menegangkan, diciptakan suasana yang menyenangkan. Melalui pengguanaan media komputer dengan aplikasi Cyberlink Power Director dalam pembelajaran matematika, akan terbentuk suasana belajar yang menyenangkan di kelas. Jika mereka telah menyenangi materi yang diberikan, maka telah terjadi peningkatan minat belajar matematika dalam diri mereka.
Pembelajaran tanpa menggunakan media komputer akan dilaksanakan hanya dengan metode ekspositori saja, dimana guru yang akan memberikan informasi pelajaran langsung kepada siswa. Pendefenisian metode tidak didefenisikan secara baku, namun secara umum metode mengajar dapat didefenisikan sebagai cara-cara yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan suatu unit materi dengan memusatkan pada keseluruhan proses atau situasi belajar untuk mencapai tujuan.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Desain yang digunkan adalah Pretes – postest Control grup desaign. Penelitian ini melibatkan dua kelas yang diberi perlakuan berbeda yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diperoleh dengan penerapan dan perlakuan tersebut maka pada siswa diberikan tes. Dengan demikian rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1 Rancangan eksperimen
Kelas
Pretes
Perlakuan
Postes
Eksperimen
T1
X1
T2
Kontrol
T1
X2
T2

Keterangan :
X1 = pengajaran dengan menggunakan media komputer
X2 = pengajaran tanpa menggunakan media komputer

Dari hasil pretest yang diperoleh dari kedua sampel siswa yang sama-sama belum diberikan pelajaran matematika sebesar 1,989 untuk nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen sedangkan pada kelas kontrol adalah sebesar 1,985. Dari sini dapat terlihat bahwa minat belajar matematika awal siswa pada kedua sampel tidak terlalu berbeda dan masih tergolong rendah. selanjutnya dilakukan analisis data terhadap minat belajar matematika siswa dimana diperoleh t-hitung. sebesar 0,05 yang berada pada daerah t-tabel = 2,018 yang berarti bahwa minat awal belajar matematika siswa pada kelas eksperimen sama dengan minat belajar matematika siswa pada kelas kontrol (tidak terdapat perbedaan). Kemudian pada kedua sampel diberikan perlakuan yang berbeda yaitu pada kelas eksperimen diterapkan pembelajaran dengan menggunakan media komputer program cyberlink Power Director sedangkan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran tanpa menggunakan media komputer. Selanjutnya setelah diberikan postest pada kedua sampel terlihat adanya peningkatan minat belajar matematika siswa. dimana rata-rata nilai posttest kelas eksperimen adalah 2,879 sedangkan rata-rata nilai posttest kelas kontrol adalah 2, 392.
Dari hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa minat belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran menggunakan media komputer Program Cyberlink Power Director meningkat dan lebih baik dari pada pembelajaran tanpa menggunakan media komputer, dengan presentase peningkatan hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 20,36%. Dengan kata lain, ada perbedaan minat belajar matematikan dengan menggunakan media komputer (Program Cyberlink Power director) dan tanpa menggunakan media komputer pada pokok bahasan kubus dan balok di kelas VIII SMP negeri 1 Hamparan Perak T.A 2009/2010.


JURNAL 3

PENGARUH LONELINESS TERHADAP INTERNET ADDICTION PADA INDIVIDUAL DEWASA AWAL PENGGUNA INTERNET
 

Individu dalam tahapan dewasa awal dengan tugas perkembangan membentuk hubungan intim dengan orang lain (Erikson dalam Santrock, 2003), maka kebutuhan akan intimasi merupakan unsur pokok dalam kepuasan suatu hubungan. Namun, jika individu tidak berhasil mengembangkan intimasinya, maka individu tersebut akan mengalami isolasi dan merasakan loneliness (Orlofsky dalam Santrock, 2003)
Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brage, Meredith & Woodward 1998) sebagai perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan dari kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dan hubungan sosial yang dimiliki. Shaver & Rubeinstein (dalam Brehm, 2002) mengungkapkan bahwa individu yang mengalami loneliness menunjukkan beberapa reaksi untuk menghadapi loneliness yang dialaminya, diantaranya melakukan kegiatan aktif (seperti belajar, bekerja, melakukan hobi, membaca, menggunakan internet), membuat kontak sosial (seperti menelpon dan chatting), melakukan kegiatan pasif (seperti menangis, tidur, tidak melalakukan apapun), dan melakukan kegiatan selingan yang kurang membangun (seperti menghabiskan uang dan belanja). 
Internet addiction oleh Young (1998), diungkapkan sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online di internet (Kandell dalam Weiten & Llyod, 2006)
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat dilihat bahwa terdapat hubungan positif antara loneliness dan internet addiction pada pengguna internet. Hal ini membuat peneliti merasa perlu untuk melihat sejauh mana pengaruh loneliness teradap internet addiction pada individu dewasa awal pengguna internet.

Variabel dalam penelitan ini adalah variable bebas yaitu Loneliness dan variabel tergantung yaitu Internet Addiction. Subjek penelitian adalah individu dewasa awal berusia 18 tahun ke atas, mengalami loneliness, memiliki kecenderungan mengalami internet addiction, dan telah menggunakan internet lebih dari 12 bulan. Metode pengumpulan data dengan menggunakan Skala Loneliness dan Skala Internet Addiction. Metode analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier dengan persamaan Y= a+bX, dan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS for windows 15.0 version.
Dengan F = 7,947 dan p < 0,05 diketahui ada pengaruh positif loneliness terhadap internet addiction.  Koefisien determinasi (r2) dari regresi menunjukkan bahwa loneliness memberikan sumbangan efektif sebesar 12,8 % terhadap internet addiction. Selebihnya yaitu, 87,2 % internet addiction dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Masih ada faktor-faktor lain (87,2%) yang mempengaruhi internet addiction pada pengguna internet. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Graham (dalam Nakkeh, 2002) bahwa internet addiction dipengaruhi oleh faktor genetik, biologis, pengaruh keluarga (cinta, pola asuh, pembekalan, kecakapan hidup), pengaruh budaya dan pengaruh sosial.
Dari hasil diatas dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh positif loneliness terhadap internet addiction pada pengguna internet. Artinya semakin tinggi loneliness yang dirasakan pengguna internet maka semakin tinggi internet addiction yang dirasakannya dan begitu juga sebaliknya semakin rendah loneliness yang dirasakan pengguna internet maka semakin rendah internet addiction yang dirasakannya. Sumbangan efektif variabel loneliness terhadap variabel loneliness terhadap variabel addiction adalah 12,8 % artinya loneliness memberikan pengaruh sebesar 12,8% terhadap internet addiction,sedangkan 87,2% disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan data hipotetik, skor total variabel loneliness dibagi atas tiga kategori yaitu : tinggi, sedang, dan rendah. Secara umum, loneliness yang dialami oleh subjek penelitian tergolong sedang.

JURNAL 4 
MENGENAL INTERAKSI MANUSIA DAN KOMPUTER


Interaksi Manusia dan Komputer (Human Computer Interaction) adalah suatu studi yang mempelajari hubungan interaksi antara manusia, komputer dan penugasan. Prinsipnya adalah pengertian bagaimana manusia dan komputer dapat secara interaktif menyelesaikan penugasan dan bagaimana sistem yang interaktif tersebut dapat dibuat. Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) merupakan gabungan disiplin ilmu pengetahuan dari bidang keilmuan, teknik dan seni. Ada banyak kontribusi bidang ilmu lainnya yang dapat bersama-sama menghasilkan sistem komputer dan dapat digunakan oleh manusia secara aktif dan mudah dalam lingkungan kerja dan sosialnya. IMK juga melibatkan pembentukan dan aplikasi prinsip, petunjuk dan metode-metode yang mendukung perancangan dan evaluasi dari sistem yang interaktif. Hal yang penting dalam IMK adalah kebutuhan yang dibuat komputer berdasarkan pengetahuan dan pengertian manusia, dan jumlah penyelesaian masalah dan pembelajaran. 
          
Faktor manusia merupakan studi tentang bagaimana manusia dengan tingkah lakunya menggunakan mesin, tool dan membuat teknologi lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.  Area ini merupakan apa yang disebut ergonomi di Inggris. IMK melibatkan bagian-bagian yang tepat dari faktor manusia dengan ergonomi, yaitu bagaimana  komputer dan manusa dapat secara interaktif menyelesaikan penugasan yang ada dan baru. IMK melibatkan seluruh aspek perancangan dan penggunaan komputer. Penelitian ini dimaksudkan untuk menuntun formasi prinsip, petunjuk metode dan tool untuk membuktikan perancangan dan pembentukan sistem komputer interaktif yang baik.
Teori psikologi membeikan kontribusi yang besar terhadap pengertian IMK. Psikologi memperhatikan hal-hal tentang pengertian, model, ramalan dan penjelasan fenomena yang paling kompleks secara keseluruhan, yaitu perilaku manusia. Semua aspek dari perilaku manusia mempunyai pengaruh terhadap interaksi manusia ke komputer dan komputer mempengaruhi perilaku manusia dalam segala cara. Perancang dan pembentuk sistem komputer dibutuhkan untuk membuat keputusan berdasarkan asumsi pengetahuan pemakai sebelumnya, pengalaman dan kemampuan untuk belajar.
IMK adalah bagian disiplin ilmu komputer. Ilmu komputer meliputi teori, metode dan latihan pemrosesan. IMK menimbulkan perhatian khusus untuk ilmu komputer seperti misalnya interface pemakai harus diprogram untuk mengantisipasi macam-macam masukan yang berbeda dan menghasilkan keluaran yang canggih sehingga perlu ada perancangan bahasa dimana pemakai dapat mengkontrol dan menggunakan sisa program.
Longg dan Dowell (1989), telah mengusulkan kerangka yang secara abstrak melibatkan representasi dan proses yang berbeda dan terjadi dalam mengapikasikan pengetahuan dari sebuah disiplin yang sesuai terhadap masalah khusus. Carrol (1990), telah membentuk kerangka yang lebih berguna dan lebih khusus untuk IMK. Kerangka Carrol pada dasarnya sebuah siklus ‘task-artefact’ yang memandang IMK sebagai kebutuhan untuk mengerti penugasan dan perancangan, dan cara bagaimana kedua siklus tersebut saling mempengaruhi. Pada gambar 1, sebuah penugasan secara impilisit menghimpun kebutuhan perancangan untuk membentuk artefact (sistem komputer adalah salah satuya) dan penggunaan artefact tersebut menetapkan kembali penugasan saat artefact dibuat pertama kali. Untuk merancang artefact yang lebih berguna, pengertain tentang tugas orang yang ada harus baik dan aplikasi yang baik dalam mengerti terhadap proses perancangan. 

Carrol memperbaiki siklus ‘task-artefact’ diatas dengan meliput kegiatan perancangan dari ilmu komputer dan dasar psikologi untuk mengerti tugas. 


Carrol memperhatikan bahwa psikologi dari penugasan menyediakan dasar keilmuan yang sesuai dalam pengertian penugasan pada IMK. Sehingga hanya aspek psikologi tersebut yang dapat membantu mengenerate pengertian psikologi tentang perilaku penugasan yang dibutuhkan.Gambar 3 berikut merupakan perluasan kerangka yang merefleksikan hubungan antara pemakai penugasan dan perancangan dengan bentuk prosesnya yang berbeda-beda.
Yaitu bentuk representasi yang beragam meliputi spesifikasi formal, model komputasi prototipe dan model-model informal.

Interaksi Manusia dan Komputer merupakan subyek yang menggunakan teori dan metode yang relevan dari banyak bidang ilmu, meliputi ilmu-ilmu fisik dan sosial, juga teknik dan seni.  Kontribusi yang penting dalam IMK berasaI dari ilmu komputer dan psikologi. Kontribusi laniutan berasal dari matematika, seni grafik, sosiologi dan intelejensi buatan. " Studi tentang IMK membutuhkan pengetahuan yang aspek-aspeknya berasal dari kontribusi disiplin ilmu yang diaplikasikan ke masalah khusus Penelitian IMK terus dilakukan secara teoritis maupun metode lanjutan di dalam membentuk teknologi baru ada banyak perhatian dalam mempelajari bagaimana mengaplikasikan penelitian ke dalam situasi praktis, dan mengerti masalah dan latihan yang terjadi.

JURNAL 5 
PENGARUH SIKAP, PERSEPSI MANFAAT, DAN PSYCHOLOGY

ATTACHMENT TERHADAP NIAT PENGGUNAAN
TEKNOLOGI INTERNET

Penerapan good corporate governance mensyaratkan pemenuhan kebutuhan perangkat keras, perangkat lunak, dan kesiapan sumber daya yang memadai agar tujuan yang ditetapkan dapat diraih dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas tingkat penerimaan teknologi internet yang semakin pesat berkembang dan sudah menjadi tuntutan umum dalam aktifitas. Model dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah technology acceptance model yang dikembangkan oleh Davis (McCoy dkk, 2007). 
Subjek penelitian adalah pegawai pemerintah kota Salatiga yang tersebar ke berbagai unit pelayanan publik. Diharapkan melalui penelitian ini pelayanan publik yang semakin baik dapat meningkatkan citra positif pemerintah kota Salatiga.
Technology acceptance model (TAM) adalah model yang diterima luas dalam penelitian yang terkait dengan sistem informasi (Jones & Hubona, 2003). TAM merupakan model yang mengadaptasi basis theory of reasoned action yang dikembangkan oleh Fishbein and Ajzen’s (Rao & Troshani, 2007). TAM sesungguhnya mengaitkan antara keyakinan kognitif dengan sikap dan perilaku individual terhadap penerimaan teknologi seperti internet. Keyakinan kognitif meliputi persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat, sementara sikap merupakan komponen afektif yang mendorong terjadinya niat perilaku dan perilaku. Gambar 1 berikut ini menunjukkan modifikasi model TAM yang diusulkan oleh Malhotra dan Galletta (1999).

Argawal (2004) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi adalah pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut dengan psychological attachment (Malhotra & Galletta,1999). Kelman memaparkan ada tiga proses perubahan niat perilaku yaitu compliance, identification, dan internalization (Malhotra & Galletta, 1999). Oleh karena itu, psychological commitment akan mempengaruhi sikap, dan niat perilaku. Dari beberapa penjabaran diatas peneliti membuat 6 hipotesis yang dinyatakan :
H1: Persepsi kemudahan penggunaan secara signifikan berpengaruh pada sikap terhadap teknologi internet.
H2: Persepsi manfaat secara signifikan berpengaruh pada sikap terhadap teknologi internet.
H3: Persepsi manfaat berpengaruh signifikan terhadap niat menggunakan teknologi internet.
H4: Sikap terhadap teknologi internet secara signifikan berpengaruh pada niat menggunakan teknologi internet.
H5: Psychological attachment secara signifikan berpengaruh pada sikap terhadap teknologi internet.
H6: Psychological attachment secara signifikan berpengaruh pada niat menggunakan teknologi internet.

Populasi penelitian adalah pegawai pemerintah kota Salatiga. Sampel yang dipilih menjadi responden adalah pegawai pemerintah kota Salatiga dari 18 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPP) di pemerintah kota Salatiga. Metode pengambilan sample adalah non-probability sampling yaitu purposive sampling dimana subyek penelitian adalah karyawan pemerintah kota yang telah menggunakan internet paling tidak satu kali. Jumlah sampel adalah 100 responden dan memenuhi jumlah minimum jumlah sampel untuk analisis faktor (Hair et al, 2006). Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey dengan menggunakan instrumen kuesioner yang disebar ke seluruh responden dengan metode drop-off/pick-up method


Sumber: Hasil olah SPSS versi 13.00 (2008)
Dari hasil pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat tidak berpengaruh signifikan pada sikap terhadap penggunaan internet. Hal-hal yang terkait dengan cakupan kerja dan ketersediaan fasilitas mempengaruhi kuat lemahnya pengaruh keyakinan kognitif tersebut pada sikap. Identification dan Compliance berpengaruh signifikan pada sikap, sementara internalization tidak berpengaruh signifikan pada sikap. Ketika atasan dan rekan kerja bersikap positif terhadap penggunaan internet, responden cenderung memiliki sikap yang sama semata-mata karena ingin menjaga hubungan dengan atasan dan rekan kerja. Namun demikian, individu yang merasa dipaksa melakukan sesuatu karena semata-mata ingin menghindari sanksi maka individu akan memiliki sikap negatif terhadap penggunaan internet. Persepi manfaat berpengaruh signifikan pada niat penggunaan internet. Motivasi individu berperilaku adalah karena ingin memperoleh manfaat. Manfaat yang diperoleh dari penggunaan internet akan berpengaruh signifikan pada niat penggunaan internet. Meskipun demikian, sikap positif terhadap penggunaan internet tidak selalu meningkatkan niat penggunaan internet. Masalah infrastruktur dapat menjadi faktor penghambat misal keterbatasan fasilitas komputer, koneksi dan/atau server yang sering down. Identification dan internalization berpengaruh positif signifikan pada niat penggunaan internet. Pengaruh identification terlihat ketika individu ingin memelihara hubungan baik dengan atasan atau rekan sekerjanya. Internalization nyata berpengaruh pada niat ketika nilai individu sesuai dengan pengaruh yang diterima dan Compliance tidak berpengaruh signifikan pada niat penggunaan internet. Hal ini terjadi ketika mekanisme reward-punishment yang terstruktur dan jelas dalam hal penggunaan internet belum tersedia.


Sumber :
1. Widodo. (2007).Analisis kriminologis tentang penyebab pelaku kejahatan yang berhubungan dengan komputer (studi di unit infotek /cybercrime, direktorat II markas besar kepolisian negara Republik Indonesia).Jurnal Hukum dan Dinamika Masyarakat Vol 4 No 2
2. Rajagukguk, Waminton. (2011). Perbedaan Minat Belajar Siswa Dengan Media Komputer Program Cyberlink Power Director dan  Tanpa Media Komputer pada Pokok Bahasan Kubus dan  Balok di Kelas  VIII SMP NEGERI 1 Hamparan Perak Tahun Ajaran  2009/2010. Jurnal Saintech Vol. 03- No.03-September 2011. Universitas Negeri Medan  
3. Tuapattinaja, J. M. R & Rahayu, N. (2009). Pengaruh Loneliness Terhadap Internet Addiction pada Individual Dewasa Awal  Pengguna Internet . Jurnal Psikologia, Vol 4 No. 2. Universitas Sumetera Utara 
4. Rahayu, D. A., Pratiwi D. (2008). Mengenal Interaksi Manusia dan Komputer. Jurnal Penelitian Psikologi, No. 1, Vol 13. Universitas Gunadarma 
5. Kriestian, A. & Tanggulungan, G. (2010). Pengaruh sikap, persepsi manfaat, dan psychology attachment terhadap niat penggunaan teknologi internet.  Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar